Pedoman EYD 2016 - Penulisan Kata


II. PENULISAN KATA


A. Kata Dasar
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

Misalnya:

       Kantor pajak penuh sesak.
Saya pergi ke sekolah.
Buku itu sangat tebal.


B. Kata Berimbuhan
     -------------------------------------------------------------------------------------------------------
1.   Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.

Misalnya:
berjalan
berkelanjutan
mempermudah
gemetar
lukisan
kemauan
perbaikan

Catatan:
Imbuhan yang diserap dari unsur asing, seperti -isme, -man, -wan, atau -wi, ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.

      Misalnya:
sukuisme
seniman
kamerawan
gerejawi

     2. Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

         Misalnya:

         adibusana
aerodinamika
antarkota
antibiotik
awahama
bikarbonat
biokimia
dekameter
demoralisasi
dwiwarna
ekabahasa
ekstrakurikuler
infrastruktur
inkonvensional
kontraindikasi
kosponsor
mancanegara
multilateral
narapidana
nonkolaborasi
paripurna
pascasarjana
pramusaji
prasejarah
proaktif
purnawirawan
saptakrida
semiprofesional
subbagian
swadaya
telewicara
transmigrasi
tunakarya
tritunggal
tansuara
ultramodern

Catatan:
      (1)   Bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang berhuruf awal kapital atau singkatan yang berupa huruf
kapital dirangkaikan dengan tanda hubung (-).

               Misalnya:
non-Indonesia
pan-Afrikanisme
pro-Barat
non-ASEAN
anti-PKI

      (2)   Bentuk maha yang diikuti kata turunan yang mengacu pada nama atau sifat Tuhan ditulis terpisah dengan huruf awal kapital.

               Misalnya:
Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.
     
      (3) Bentuk maha yang diikuti kata dasar yang mengacu kepada nama atau sifat Tuhan, kecuali kata esa, ditulis serangkai.

Misalnya:
Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

C.   Bentuk Ulang
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

       Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.

      Misalnya:
anak-anak
biri-biri
lauk-pauk
berjalan-jalan
buku-buku
cumi-cumi
mondar-mandir
mencari-cari
hati-hati
kupu-kupu
ramah-tamah
terus-menerus
kuda-kuda
kura-kura
sayur-mayur
porak-poranda
mata-mata
ubun-ubun
serba-serbi
tunggang-langgang

Catatan:
Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama.

      Misalnya:
surat kabar:  surat-surat kabar
kapal barang:  kapal-kapal barang
rak buku: rak-rak buku
kereta api cepat:  kereta-kereta api cepat

D. Gabungan Kata
      -------------------------------------------------------------------------------------------------------
      1. Unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah.

           Misalnya:
duta besar model linear
kambing hitam persegi panjang
orang tua rumah sakit jiwa
simpang empat meja tulis
mata acara cendera mata

      2. Gabungan kata yang dapat menimbulkan salah pengertian ditulis dengan membubuhkan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.

           Misalnya:
anak-istri pejabat anak istri-pejabat
ibu-bapak kami ibu bapak-kami
buku-sejarah baru buku sejarah-baru

      3. Gabungan kata yang penulisannya terpisah tetap ditulis terpisah jika mendapat awalan atau akhiran.

           Misalnya:
bertepuk tangan
menganak sungai
garis bawahi
sebar luaskan

      4. Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai.

           Misalnya:
dilipatgandakan
menggarisbawahi
menyebarluaskan
penghancurleburan
pertanggungjawaban

      5. Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai.

           Misalnya:
acapkali
adakalanya
apalagi
bagaimana
barangkali
beasiswa
belasungkawa
bilamana
bumiputra
darmabakti
dukacita
hulubalang
kacamata
kasatmata
kilometer
manasuka
matahari
olahraga padahal
peribahasa
perilaku puspawarna
radioaktif
saptamarga
saputangan
saripati
sediakala
segitiga
sukacita
sukarela
syahbandar
wiraswata

E. Pemenggalan Kata
     -------------------------------------------------------------------------------------------------------
      1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.

           a.    Jika di tengah kata terdapat huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.

               Misalnya:
bu-ah
ma-in
ni-at
sa-at

           b. Huruf diftong ai, au, ei, dan oi tidak dipenggal.

           Misalnya:
pan-dai
au-la
sau-da-ra
sur-vei
am-boi

           c. Jika di tengah kata dasar terdapat huruf konsonan (termasuk gabungan huruf konsonan) di antara dua huruf vokal, pemenggalannya dilakukan sebelum huruf kon-sonan itu.

              Misalnya:
ba-pak
la-wan
de-ngan
ke-nyang
mu-ta-khir
mu-sya-wa-rah

           d. Jika di tengah kata dasar terdapat dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.

               Misalnya:
Ap-ril
cap-lok
makh-luk
man-di
sang-gup
som-bong
swas-ta

      e. Jika di tengah kata dasar terdapat tiga huruf konsonan atau lebih yang masing-masing melambangkan satu bunyi, pemenggalannya dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.

           Misalnya:
ul-tra
in-fra
ben-trok
in-stru-men
          
Catatan:
Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi tidak dipenggal.

           Misalnya:
bang-krut
bang-sa
ba-nyak
ikh-las
kong-res
makh-luk
masy-hur
sang-gup

2.   Pemenggalan kata turunan sedapat-dapatnya dilakukan di antara bentuk dasar dan unsur pembentuknya.

      Misalnya:
ber-jalan
mem-pertanggungjawabkan
mem-bantu
memper-tanggungjawabkan
di-ambil
mempertanggung-jawabkan
ter-bawa
mempertanggungjawab-kan
per-buat
me-rasakan

makan-an
merasa-kan
letak-kan
per-buatan
pergi-lah
perbuat-an
apa-kah
ke-kuatan
kekuat-an

Catatan:
      (1) Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya mengalami perubahan dilakukan seperti pada kata dasar.

              Misalnya:
me-nu-tup
me-ma-kai
me-nya-pu
me-nge-cat
pe-mi-kir
pe-no-long
pe-nga-rang
pe-nge-tik
pe-nye-but

      (2) Pemenggalan kata bersisipan dilakukan seperti pada kata dasar.

              Misalnya:

      ge-lem-bung
ge-mu-ruh
ge-ri-gi
si-nam-bung
te-lun-juk

      (3) Pemenggalan kata yang menyebabkan munculnya satu huruf di awal atau akhir baris tidak dilakukan.
Misalnya:
Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah disampaikan ….
Walaupun cuma-cuma, mereka tidak mau mengambil makanan itu.

3.   Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan salah satu unsurnya itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya dilakukan di antara unsur-unsur itu. Tiap unsur gabungan itu dipenggal seperti pada kata dasar.

Misalnya:
biografi                bio-grafi                    bi-o-gra-fi
biodata                bio-data                     bi-o-da-ta
fotografi              foto-grafi                   fo-to-gra-fi
fotokopi               foto-kopi                    fo-to-ko-pi
introspeksi          intro-speksi               in-tro-spek-si
introjeksi             intro-jeksi                  in-tro-jek-si
kilogram              kilo-gram                  ki-lo-gram
kilometer             kilo-meter                 ki-lo-me-ter
pascapanen         pasca-panen              pas-ca-pa-nen
pascasarjana      pasca-sarjana           pas-ca-sar-ja-na

4. Nama orang yang terdiri atas dua unsur atau lebih pada akhir baris dipenggal di antara unsur-unsurnya.

Misalnya:
Lagu Indonesia Raya  digubah oleh Wage Rudolf Supratman.
Buku Layar Terkembang dikarang oleh Sutan Takdir Alisjahbana.

5. Singkatan nama diri dan gelar yang terdiri atas dua huruf atau lebih tidak dipenggal.

      Misalnya:

      Ia bekerja di DLLAJR.
Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.Ng. Rangga Warsita.

      Catatan:
Penulisan berikut dihindari.


      Ia bekerja di DLL-AJR.
Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.Ng. Rangga Warsita.

F. Kata Depan
     -------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kata depan, seperti di, ke, dan dari, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

      Misalnya:
Di mana dia sekarang?
Kain itu disimpan di dalam lemari.
Dia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
Mari kita berangkat ke kantor.
Saya pergi ke sana mencarinya.
Ia berasal dari Pulau Penyengat.
Cincin itu terbuat dari emas.

G. Partikel
      -------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

      Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik!
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?

      2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

            Misalnya:     
      Apa pun permasalahan yang muncul, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.
Jika kita hendak pulang tengah malam pun, kendaraan masih tersedia.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah berkunjung ke rumahku.

Catatan:
Partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung ditulis serangkai.

      Misalnya:

      Meskipun sibuk, dia dapat menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.
Dia tetap bersemangat walaupun lelah.
Adapun penyebab kemacetan itu belum diketahui.
Bagaimanapun pekerjaan itu harus selesai minggu depan.

3. Partikel per yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

      Misalnya:
      Mereka masuk ke dalam ruang rapat satu per satu.
Harga kain itu Rp50.000,00 per meter.
Karyawan itu mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.

H. Singkatan dan Akronim
      -------------------------------------------------------------------------------------------------------
      1. Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan itu.

            Misalnya:

      A.H. Nasution Abdul Haris Nasution
H. Hamid Haji Hamid
Suman Hs. Suman Hasibuan
W.R. Supratman Wage Rudolf Supratman
M.B.A. master of business administration
M.Hum. magister humaniora
M.Si. magister sains
S.E. sarjana ekonomi
S.Sos. sarjana sosial
S.Kom. sarjana komunikasi
S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat
Sdr. saudara
Kol. Darmawati Kolonel Darmawati

2. a. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

      Misalnya:
NKRI   Negara Kesatuan Republik Indonesia
UI        Universitas Indonesia
PBB     Perserikatan Bangsa-Bangsa
WHO   World Health Organization
PGRI    Persatuan Guru Republik Indonesia
KUHP Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

     b. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Misalnya:
PT       perseroan terbatas
MAN   madrasah aliah negeri
SD       sekolah dasar
KTP     kartu tanda penduduk
SIM     surat izin mengemudi
NIP      nomor induk pegawai

3. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik.

      Misalnya:

      hlm.    halaman
dll.      dan lain-lain
dsb.     dan sebagainya
dst.      dan seterusnya
sda.     sama dengan di atas
ybs.     yang bersangkutan
yth.     yang terhormat
ttd.      tertanda
dkk.    dan kawan-kawan

4.   Singkatan yang terdiri atas dua huruf yang lazim dipakai dalam surat-menyurat masing-masing diikuti oleh tanda titik.

      Misalnya:

      a.n.      atas nama
d.a.      dengan alamat
u.b.      untuk beliau
u.p.      untuk perhatian
s.d.      sampai dengan

5. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

      Misalnya:
Cu       kuprum
cm       sentimeter
kVA     kilovolt-ampere
l           liter
kg        kilogram
Rp       rupiah

6. Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

      Misalnya:
BIG      Badan Informasi Geospasial
BIN     Badan Intelijen Negara
LIPI    Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
LAN    Lembaga Administrasi Negara
PASI   Persatuan Atletik Seluruh Indonesia

7. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.

      Misalnya:

      Bulog         Badan Urusan Logistik
Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Kowani      Kongres Wanita Indonesia
Kalteng      Kalimantan Tengah
Mabbim     Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia
Suramadu Surabaya Madura

8. Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil.

      Misalnya:
iptek               ilmu pengetahuan dan teknologi
pemilu            pemilihan umum
puskesmas     pusat kesehatan masyarakat
rapim             rapat pimpinan
rudal               peluru kendali
tilang              bukti pelanggaran

I.    Angka dan Bilangan
      -------------------------------------------------------------------------------------------------------
      Angka Arab atau angka Romawi lazim dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor.
      Angka Arab             : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
      Angka Romawi       : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000),


      1. Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan
huruf, kecuali jika dipakai secara berurutan seperti dalam perincian.

           Misalnya:
           Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.
           Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku.
           Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang abstain.
           Kendaraan yang dipesan untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 minibus,
dan 250 sedan.

      2. a. Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.

      Misalnya:

      Lima puluh siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.
Tiga pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.

Catatan:

      Penulisan berikut dihindari.
50 siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.
3 pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.

b. Apabila bilangan pada awal kalimat tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua
kata, susunan kalimatnya diubah.

      Misalnya:
Panitia mengundang 250 orang peserta.
Di lemari itu tersimpan 25 naskah kuno.

Catatan:
Penulisan berikut dihindari.

      250 orang peserta diundang panitia.
25 naskah kuno tersimpan di lemari itu.

3. Angka yang menunjukkan bilangan besar dapat ditulis sebagian dengan huruf supaya lebih mudah dibaca.

      Misalnya:
Dia mendapatkan bantuan 250 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya.
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.
Proyek pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya Rp10 triliun.

4. Angka dipakai untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, luas, isi, dan waktu serta (b) nilai uang.

      Misalnya:
0,5 sentimeter
5 kilogram
4 hektare
10 liter
2 tahun 6 bulan 5 hari
1 jam 20 menit
Rp5.000,00
US$3,50
£5,10
¥100

5.   Angka dipakai untuk menomori alamat, seperti jalan, rumah, apartemen, atau kamar.

      Misalnya:
Jalan Tanah Abang I No. 15 atau
Jalan Tanah Abang I/15
Jalan Wijaya No. 14
Hotel Mahameru, Kamar 169
Gedung Samudra, Lantai II, Ruang 201

6. Angka dipakai untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab suci.

      Misalnya:
Bab X, Pasal 5, halaman 252
Surah Yasin: 9
Markus 16: 15—16

7. Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a. Bilangan Utuh

       Misalnya:
dua belas (12)
tiga puluh (30)
lima ribu (5.000)
     
      b. Bilangan Pecahan

           Misalnya:

       setengah atau seperdua (1/2)
seperenam belas (1/16)
tiga perempat (3/4)
dua persepuluh (2/10)
tiga dua-pertiga (3 2/3)
satu persen (1%)
satu permil (1o/oo)

8. Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.

      Misalnya:
abad XX
abad ke-20
abad kedua puluh
Perang Dunia II
Perang Dunia Ke-2
Perang Dunia Kedua

9. Penulisan angka yang mendapat akhiran -an dilakukan dengan cara berikut.

      Misalnya:
lima lembar uang 1.000-an (lima lembar uang seribuan)
tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)
uang 5.000-an (uang lima ribuan)

10. Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan dalam peraturan perundang-undangan, akta, dan kuitansi.

      Misalnya:
Setiap orang yang menyebarkan atau mengedarkan rupiah tiruan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Telah diterima uang sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah) untuk pembayaran satu unit televisi.

11. Penulisan bilangan yang dilambangkan dengan angka dan diikuti huruf dilakukan seperti berikut.
Misalnya:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp900.500,50 (sembilan ratus ribu lima ratus rupiah lima puluh sen).
Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) ke atas harus dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban.

12. Bilangan yang digunakan sebagai unsur nama geografi ditulis dengan huruf.

      Misalnya:
Kelapadua
Kotonanampek
Rajaampat
Simpanglima
Tigaraksa

J.    Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan –nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

      Misalnya:
Rumah itu telah kujual.
Majalah ini boleh kaubaca.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
Rumahnya sedang diperbaiki.

K. Kata Sandang si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

      Misalnya:
Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
Toko itu memberikan hadiah kepada si pembeli.
Ibu itu menghadiahi sang suami kemeja batik.
Sang adik mematuhi nasihat sang kakak.
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Dalam cerita itu si Buta berhasil menolong kekasihnya.

Catatan:
Huruf awal sang ditulis dengan huruf kapital jika sang merupakan unsur nama Tuhan.

      Misalnya:
Kita harus berserah diri kepada Sang Pencipta.
Pura dibangun oleh umat Hindu untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa.









EmoticonEmoticon